4f1f89’s Weblog


DR Surahman Hidayat: SEKALI SHAUM TETAP SHAUM
Juni 18, 2008, 3:39 am
Diarsipkan di bawah: Materi Tarbiyah

Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin, jama’ah shalat ‘ied rahimakumullah
Dengan mengagungkan asma Allah, marilah kita bertahmid, memuji serta bersyukur kehadirat-Nya. Karena atas taufiq-Nyalah kita telah dapat menuntaskan shiyamu ramadhan sebulan penuh, menyelesaikan qiyamu ramadhan tanpa bolong, merampungkan khatmul quran sekali atau lebih, menunaikan zakatul fithri dan zakatul mal dengan baik, serta mendukungnya dengan shadaqah dan shilaturahim kepada orang tua, guru, saudara, tetangga dan handai taulan.

Pada hari nan fithri ini Allah kembali mengkaruniakan kepada kita hari yang teramat istimewa, yaumul ‘id hari raya dan bersuka cita, yamul fithri hari kembali secara total pada kesucian fithrah, yaumul jaizah hari pembagian pahala dan piala kepada para alumnus pendidikan ramadhan. Semoga pada hari kemenangan ini kita mendapatkan yang terbaik (al afdhal) dari semua yang Allah sediakan bagi para shaimin wal shaimat, sehingga kita menikmati suasana ‘iedul fithri dengan penuh rasa syukur.

“Dan hendaklah kamu sekalian menyempurnakan bilangan shiyam sebulan penuh, dan mengagungkan asma Allah sesuai dengan petunjukNya, mudah-mudahan kamu sekalian bersyukur”.
(QS2 al Baqarah: 184)

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Adapun akhlaqiyah atau moralitas ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan paling tidak ada lima:
1.Al shidqu yakni kejujuran.
Kejujuran merupakan bukti paling niscaya bahwa seseorang dalam suasana taqwa. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة :119)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan pastikanlah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur”

Kejujuran adalah gerbang menuju segala kebaikan, sedangkan ketidakjujuran akan membawa kepada pelbagai penyimpangan dan kejahatan. Orang harus berlatih untuk jujur, sekali dua kali tiga kali dan seterusnya, sehingga ia dicatat oleh Allah sebagai pribadi yang jujur (AL SHIDDIEQ). Kemudian telah ada jaminan dari Allah, bahwa orang jujur akan mujur, sedang yang tidak jujur cepat atau lambat akan hancur. Bukti empirik telah begitu banyak membenarkan korelasi ini.

2. Al Tathahhur yakni membersihkan diri
Ramadhan memang bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do’anya dikabulkan. Kemudian bersama ‘idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.

3. Al Ijabiyah, bersikap positif
Sikap positif menuntut kita untuk selektif dalam memilih lingkungan, dalam mengambil langkah, kegiatan dan mata pencaharian. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa sebagai alumnus pendidikan ramadhan, kita tidak melakukan kecuali pekerjaan yang baik, maslahat bagi kehidupan dan tanpa melanggar syari’ah. Sebab puasa yang benar menuntun dan menuntut kita untuk menjauhi “allaghwi wal rafatsi” yakni perkara yang sia-sia dan perkataan yang tidak pantas

4. Al Mujahadah, membanting tulang
Dalam keadaan lapar dan dahaga shiyamu ramadhan memacu insan beriman untuk lebih giat lagi melakukan aktifitas taqarrub ilallah seperti shalat, tilawatil quran dan kegiatan yang bemanfaat bagi kehidupan social.
Wajarlah sejarah mencatat di antara hasil mujahadah ramadhan berupa kemenangan gemilang di perang badar pada tahun ke-2 Hijriyah, pembebasan Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-6 Hijriyah, dan kemenangan perang Amoria yang meluluhlantahkan pasukan Romawi di Byzantium pada tahun 214 H pada masa Al Mu’tashim Billah. Memang semangat ramadhan adalah semangat juang untuk meraih pelbagai kemenangan.

5. Mempertahankan surplus spiritual (Al faidhu wal insyirah)
Shiyamu ramadhan mendidik surplus spiritual dan moral, menjaga diri agar tidak terjebak pada kekerdilan jiwa dan kenihilan moral. Mendidik para shaimin untuk mengokohkan jiwanya serta melapangkan dadanya. Dengan menegaskan pada dirinya “inni shaimun” aku ini sedang puasa, ia mampu menggagalkan setiap provokasi negatif yang akan merusak hubungan sosial menjadi konflik yang menghancurkan semua pihak.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Demikianlah dengan mempertahankan jiwa shiyamu ramadhan serta moralitasnya, maka kehidupan kita pasca ramdhan selama 11 bulan akan tetap disinari dengan cahaya ramadhan, sehingga kerahmatan Allah dan maghfirahnya akan senantiasa diberikan kepada siapa saja yang mampu mempertahankannya. Curahan berkah dari langit selama bulan ramadhan akan berlanjut manakala kita memenuhi faktor-faktor yang menghadirkannya.

Suatu tingkatan ketaqwaan yang telah kita raih harus kita pertahankan, jangan sampai mengalami degradasi apalagi peluruhan dan peluluhan. Karena hanya dengan ketaqwaanlah kita dapat menggapai kebahagiaan (al falah) yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah dalam banyak ayat:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah supaya kamu sekalian mendapat kemenangan/kebahagiaan” (QS 2/189, 3/130, 200)

( ANA | PIP PKS-ANZ | PKS-ANZ.ORG )


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>